Baik Buruk Media Sosial

sumber: timesindonesia.co.id

                Manusia pada hakekatnya adalah mahluk sosial. Dari mulai zaman purba hingga era sekarang, manusia terus berinteraksi satu sama lain untuk menunjukkan eksistensi keberadaannya. Salah satu terobosan yang paling menggembirakan adalah dimana ketika pertama kali diciptakannya telepon oleh Antonio Meucci. Seiring berkembangnya teknologi serta peradaban, hal tersebut terus berubah dari telepon genggam hingga saat ini media sosial.

                Facebook, Instagram, TikTok serta Twitter yang hari – hari ini sering kita jumpai sudah menjadi hal yang biasa bahkan tak sedikit pula yang menjadikan media sosial sebagai sarana untuk mencari pendapatan. Media sosial juga melahirkan selebriti baru, Justin Bieber misalnya. Dari yang awalnya ia hanya mengcover lagu dan menguploadnya ke YouTube sekarang ia menjadi artis Holywood papan atas. Namun, media sosial datang tak hanya membawa hal yang positif, namun juga negatif. Penyebaran berita hoax, hate speech, serta berita – berita yang tak jelas kebenarannya semakin masif dan mudah sekali tersebar ke masyarakat. Tak jarang pula, hal – hal semacam ini memang sengaja diciptakan untuk menggiring opini masyarakat menuju suatu sikap tertentu.

                Selain penyeberan berita Hoax, yang paling menyita perhatian publik ahkir – ahkir ini adalah KOL (Key Opinion Leader) soal Politik.  Sebut saja nama Denny Siregar, Abu Janda, Felix Siaw dan beberapa tokoh lainnya, beradu argumen saling serang, tak jarang membawa narasi – narasi yang menyudutkan. Melihat hal tersebut, terus terang saja saya tak habis pikir. Kenapa ada seorang yang ‘mati – matian’ membela pemerintah, seolah menutup mata akan kekurangannya. Sebagai warga negara yang baik, alangkah baiknya kita juga mengkritik pemerintah agar tetap berada dijalan yang lurus dalam mengelola permasalahan bangsa ini. Radikalisme memang ada, dan menjadi musuh kita bersama, akan tetapi pelabelan ‘kaum radikal’ terhadap seseorang atau kelompok menurut saya harusnya tidak perlu. Karna, hal tersebut justru akan menjadi jurang yang memisahkan persatuan dan kesatuan sesama anak bangsa. Alangkah baiknya, jika memang berbeda pendapat carilah jalan tengah, boleh jadi berbeda cara pandang namun harus tetap satu tujua, Indonesia Jaya.

                Terlepas dari semua hal positif – negatif media sosial, orang tua juga harus berperan aktif dalam mengontrol anaknya dalam bermedia sosial. Tentukan batas – batas penggunaannya seperti lamanya waktu mengakses, preferensi konten dan lainnya. Media sosialnya hanyalah sebuah sarana, baik atau buruk tergantung pada penggunaannya.

 

“Jempolmu, Harimaumu”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar Menerima Kritik