Belajar Menerima Kritik

                Kadang kala sebagai seorang manusia tentunya melakukan segala sesuatunya pasti tak akan pernah bisa menyenangkan semua pihak, tetapi dalam melakukan perbuatan tersebut pasti dalam hati kecil kita memberikan yang terbaik semampu kita serta sudah di hitung kekurangan dan kelebihannya. Disisi lain, ketika kita sudah melakukan yang terbaik itu ada saja orang yang merasa tidak suka ataupun kurang setuju dengan berbagai macam alasan. Sebagai seorang manusia biasa kadang kita kecewa, bahkan mungkin merasa tak dihargai. Menurut saya itu wajar sekali.

                Kritik ataupun saran yang kita terima tadi tak semestinya disikapi secara negatif, misal kita marah atau merasa kecewa bahkan sakit hati. Sepengalaman saya dalam kehidupan, seringkali saya merenung dan mencoba memikirkan kembali perkataan orang yang ‘tidak suka’ dengan apa yang kita lakukan. Apa iya kita seperti yang mereka bilang? Merenung dan mengkonstruksi ulang pikiran kita itu penting, sebab boleh jadi apa yang disampaikan orang tersebut adalah hal yang baik tapi terlewat oleh pikiran kita. Akan menjadi sia – sia kan kalau kita mengedepankan emosi karna merasa sakit hati lalu saran – saran yang baik ataupun sudut pandang yang dapat kita ambil dari orang tersebut malah kita lewatkan.

                Tak hanya dalam kehidupan pribadi, kritik pun kita saksikan sehari – hari dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sayangnya, kritik yang semestinya menjadi ajang debat pemikiran yang konstruktif seringkali tidak muncul karna ulah BuzzeRp yang bersifat destruktif, menyerang personal, labelisasi ‘kadrun’ dan lain – lain. Orang – orang seperti Pak Kwik Kian Gie mantan Menteri Perekonomian pun sampai mencuit “takut” untuk berpendapat di era sekarang karna ulah BuzzeRp tersebut. Tak bermaksud menggurui, namun jika dibandingkan di era Pemerintahan sebelumnya, rasa – rasanya hal seperti ini tidak terjadi. Barangkali penggunaan media sosial tak semasif sekarang yang siapapun, dimanapun bisa mengaksesnya dengan mudah.

                Pada ahkirnya, semua orang tentu harus mengontrol ibu jari mereka ketika bermedia sosial. Ketika tak ada hubungannya dengan kita, ataupun ingin mengomentari sesuatu hal alangkah baiknya memikirkannya 2x bahkan 10x, karna apa yang kita ketik, komentari boleh jadi bisa mengakibatkan sakit hati seseorang ataupun kemungkinan terburuk membawa kita menginap di hotel prodeo karna UU ITE. (AW/7/2/2021) 

Komentar